Lilik Nurhayati (duduk) saat mengikuti PSAJ Peket B di SPNF SKB Bandar Lampung, Rabu, 6 Mei 2026. DOK
S K B – Di sebuah ruang kelas Satuan Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Bandar Lampung – saat pelaksanaan ujian Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ) Paket B, waktu seakan berjalan lebih lambat. Derit kursi, suara kertas dibalik, dan napas yang tertahan menciptakan suasana yang hening namun sarat makna.
Di antara para peserta ujian PSAJ Paket B tahun pelajaran 2025/2026 itu, duduk seorang perempuan dengan tekad yang tak lagi bisa ditunda. Ia adalah Lilik Nurhayati.
Tangannya menggenggam lembar soal dengan hati-hati. Matanya menelusuri setiap kalimat, setiap pilihan jawaban, seolah ia sedang membaca kembali perjalanan hidupnya sendiri.
Tak ada yang ingin ia lewatkan. Bagi Lilik – sapaannya itu, ujian tersebut bukan sekadar tentang benar atau salah, melainkan tentang kesempatan kedua yang akhirnya digenggam setelah sekian lama menunggu.
Di usianya yang hampir menginjak 45 tahun, Lilik memilih untuk kembali duduk di bangku belajar. Sesuatu yang bagi banyak orang mungkin terasa terlambat.
Namun bagi dirinya, ini adalah awal. Awal untuk menuntaskan mimpi yang sempat terhenti. Awal untuk membuktikan bahwa hidup tidak berhenti hanya karena waktu terus berjalan.
Sehari-hari, Lilik dikenal sebagai penjual makanan di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung. Dari balik lapak sederhana itulah ia bertahan, menghidupi dua orang anaknya seorang diri.
Tak ada kemewahan dalam hidupnya. Yang ada hanyalah kerja keras, kelelahan, dan tanggung jawab yang tak pernah berhenti.
Pagi hari ia sibuk melayani pembeli. Siang, ia tetap berdiri, memastikan dagangannya habis terjual. Malam hari, ketika sebagian orang memilih beristirahat, Lilik justru membuka buku.
Di bawah cahaya lampu yang sederhana, ia mengulang pelajaran yang mungkin bagi sebagian orang terasa mudah, namun baginya adalah tantangan yang harus ditaklukkan dengan kesabaran.
Tak jarang rasa lelah datang lebih dulu. Tubuhnya menuntut istirahat, matanya ingin terpejam. Namun tekadnya selalu lebih kuat. Ia tahu, jika menyerah malam ini, maka mimpi itu akan kembali tertunda, entah sampai kapan.
“Pendidikan adalah jalan untuk memperbaiki hidup, keyakinan ini yang terus saya pegang, bahkan di saat-saat tersulit,” ujar Lilik, usai mengikuti PSAJ di SKB, Rabu, 6 Mei 2026.
Baca juga: Puluhan Peserta Didik Paket A dan B SKB Bandar Lampung Ikuti PSAJ 2026
Menjadi ibu tunggal bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lebih dari itu, Lilik ingin memberikan contoh bagi anak-anaknya.
Ia melihat bahwa perjuangan tidak mengenal kata terlambat. Bahwa belajar adalah hak sekaligus kewajiban, tak peduli berapa pun usia seseorang.
Dan tanpa banyak orang sadari, Lilik telah membuktikan hal itu. Di tengah keterbatasannya, ia mampu mengantarkan anak sulungnya menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana.
Sebuah capaian yang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, namun bagi Lilik adalah hasil dari pengorbanan panjang, dari hari-hari tanpa istirahat, dari doa-doa yang tak pernah putus.
Kini, ia berdiri di titik yang berbeda. Bukan lagi hanya sebagai seorang ibu yang mendorong anaknya untuk belajar, tetapi sebagai sosok yang juga berjuang di jalur yang sama, mengejar pendidikan yang sempat tertunda.
Dukungan dari keluarga dan lingkungan kerja menjadi kekuatan tersendiri. Dorongan dari Kepala Subbagian Umum dan Kepegawaian Disdikbud, Desmawati, S.Sos., M.M, memberikan semangat tambahan baginya untuk terus melangkah.
“Dalam setiap kata motivasi yang diberikan Ibu Desmawati kepada saya beberapa waktu lalu tentang pentingnya pendidikan, akhirnya saya menemukan alasan untuk tidak menyerah,” ujarnya seraya mengucapkan kata terima kasih kepada sang motivatornya itu.
Mengikuti Paket B, kata wanita berkulit hitam manis, itu bukanlah akhir. Justru katanya pintu menuju perjalanan berikutnya. Dengan penuh keyakinan, ia telah menetapkan langkah selanjutnya, melanjutkan ke Paket C.
“Saya tidak lagi ragu. Saya tidak lagi takut tertinggal untuk mengejar pendidikan,” katanya, seraya menambahkan bahwa baginya yang terpenting bukan seberapa cepat sampai, tetapi seberapa kuat bertahan. (INTAN)
Baca juga: Disdikbud Apresiasi PSAJ Paket A & B di SKB, Penilik: Berjalan Baik dan Lancar
