S K B – Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan, guru yang memilih mengabdi di jalur yang sering luput dari sorotan, yakni pendidikan nonformal. Mengajar di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Bandar Lampung, menapaki hari-harinya dengan satu keyakinan kuat, bahwa setiap anak bangsa berhak untuk belajar, tanpa memandang latar belakang, usia, atau masa lalu pendidikan mereka.
Ruang kelas bukan sekadar tempat menyampaikan materi, namun menjadikannya sebagai ruang pemulihan harapan. Banyak peserta didik yang datang dengan cerita hidup yang tidak mudah, putus sekolah karena ekonomi, keterbatasan akses, hingga tekanan sosial. Di sinilah peran guru menjadi lebih dari sekadar guru. Ia adalah pendengar, penyemangat, sekaligus pengarah yang perlahan mengembalikan kepercayaan diri mereka.
Sebagai pengampu mata pelajaran Ekonomi, ilmu yang ajarkan memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya menjelaskan konsep-konsep dasar seperti produksi, distribusi, dan konsumsi, tetapi juga mengajak peserta didik untuk memahami realitas ekonomi yang mereka hadapi. Mengajarkan bagaimana mengelola penghasilan, menyusun prioritas kebutuhan, hingga membangun pola pikir kewirausahaan.
Dalam setiap proses pembelajaran, berusaha mendekatkan materi dengan pengalaman nyata peserta didik. Ketika ilmu terasa relevan, maka semangat belajar akan tumbuh dengan sendirinya. Dengan metode yang sederhana namun menyentuh, ia mampu mengubah pelajaran ekonomi menjadi bekal hidup yang bermakna.
Peran guru ekonomi di pendidikan nonformal sangatlah strategis. Tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara pandang peserta didik terhadap masa depan. Menanamkan kesadaran bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang. Dengan pemahaman ekonomi yang baik, peserta didik dapat mengambil keputusan yang lebih bijak, mandiri secara finansial, dan memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas hidup.
Lebih jauh, seorang guru juga menjadi bagian dari upaya besar dalam menekan angka putus sekolah. Kehadirannya di SKB membuka pintu kedua bagi mereka yang sempat tertinggal. Pendidikan tidak berhenti ketika seseorang keluar dari sekolah formal. Selalu ada jalan untuk kembali belajar, memperbaiki diri, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Apa yang dilakukan seorang guru adalah cerminan bahwa pendidikan nonformal memiliki peran yang tidak kalah penting. Di balik kesederhanaan fasilitas, terdapat semangat besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Berdiri di garis depan, memastikan tidak ada yang benar-benar tertinggal.
Setiap individu memiliki kesempatan kedua, dan pendidikan nonformal adalah jembatan menuju harapan itu. Jangan biarkan anak-anak dan generasi muda berhenti di tengah jalan. Mari dorong mereka untuk kembali belajar, di mana pun tempatnya.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang di mana kita belajar, tetapi tentang kemauan untuk terus belajar. (*)

